Wednesday, November 24, 2010

Ali Musthafa Ya’qub

Hadist dalam pandangan beberapa ulama mempunyai arti tersendiri di mata mereka. Yang mana dalam menganalisa suatu hadist, di perlukan beberapa metode-metode yang pasti dan konkret, agar hadist yang di kaji mendapatkan tempat tersendiri. Dan dalam proses-proses pengkajian tersebut, haruslah mempunyai inti-inti dari kajian hadist itu sendiri.


Hadist pun tak lepas dari kritik-kritik dari berbagai penjuru, baik itu dari para ahli-ahli hadist atau para mufassirun. Adapun mengenai kritik-kritik yang di sampaikan kepada para ahli hadist di maksudkan agar kandungan hadist yang mempunyai tingkat keshahihan tersebut tetap terjaga baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.


Dalam sejarah pula pernah mengatakan terdapat ulama Islam yang bernama Abu Hanifah yang paling banyak di kritik semasa hidupnya oleh para pengkritik hadist. Dan pernyataan tersebut di nyatakan oleh Ibnu Hibban bahwasanya hadist tersebut tidak bisa di jadikan sebagai Hujjah1. Akan tetapi Ibnu Hibban ini mendapat kritik pula dengan ulama lain, dan mengatakn bahwa Ibnu Hibban ini terlalu berlebihan dalam mengkritik hadist. Bahkan pengkritik Ibnu Hibban ini pernah menuduhnya sebagai kafir zindiq dan hampir di hukum mati.
Adapun tokoh-tokoh pengkritik hadist lainnya ialah Ali musthafa Ya’qub. Yang mana Ali ini merupkan salah satu dari pengkritik hadist-hadist yang pernah ia pelajari. Ali mustafa ini merupakan salah satu pemikir hadist Indonesia modern. Dan Ali ini pula selain mengkritik hadist-hadist, beliau pula mengkritik para kritikus-kritikus hadist.


Biografi Ali Mustafa Ya’qub:


Ali Mustafa di lahirkan di Kemiri, Batang, Jawa tengah, dari sebuah keluarga yang taat dalam agama. Dan Ali Musthafa sendiri telah lama berkecimpung di dunia hadist, di mulai sejak ketertarikannya terhadap dunia tafsir & hadist pada tahun 1969, kemudian beliau pula pernah “nyantri” di pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang. Setelah memperbaharui dunia Tafsirnya, Ali musthafa pun melanjutkan studinya di Universitas Ibnu Saud untuk beberapa tahun2.
Setelah kepulangan dari studinya itu, maka Ali mustafa pun mulai aktif untuk mengajar di berbagai perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, seperti UIN(Syarif Hidayatullah), Istitut Agama-Agama, dll. Dan selain mengajar di Perguruan Tinggi, Ali musthafa pun mulai menyuarakan syi’ar-syi’ar Islam sebagaimana yang banyak terdapat dalam media-media elektronik maupun media cetak.
Ali mustafa ya’qub merupakan salah satu peneliti sekaligus ahli dalam bidang hadist, yang mana tujuan beliau selain mengkaji bidang keilmuan hadist, beliau pula ingin meluruskan pendapat-pendapat para ulama yang seringkali kurang tepat dalam penafsiran hadist-hadist. Sehingga seringkali terdapat kesalah fahaman mengenai pemaknaan hadist.


Urgensi pemikiran Ali Musthafa Ya’qub


Ali Mustafa ya’qub pula mempunyai peranan penting dalam perkembangan hadist. Salah satunya beliau mengkritik beberapa hadist-hadist yang dianggapnya perlu untuk di kaji lebih dalam. Mengenai sistematika pengkritikan hadist, Ali mustafa mempunyai beberapa macam dalam kritik hadis. Salah satunya ialah:
Metode Kritik Hadist
Di sini, Ali Mustafa merumuskan beberapa pendekatan-pendekatan dalam kritik hadist, yaitu pendekatan dalam bidang matan hadist. Yang pertama: sanad yang bersambung dari periwayat terakhir dalam proses pembukuan sampai pada nabi Muhammad. Kedua: para periwayat mempunyai sifat ‘adil dan dhabit3.
Akan tetapi para ulama-ulama klasik pernah mengatakan bahwasanya ke-dhabitan seseorang itu adakalanya lemah, maksud disini para periwayat hadist pun pernah lupa atau pernah lemah dalam meriwayatkan suatu hadist. Maka dari itu Ali mustafa mempunyai suatu metode untuk menyelidiki suatu kedhabitan itu. Diantaranya:


1.Membandingkan hadist-hadist yang pernah diriwayatkan oleh para sahabat-sahabat nabi antara satu dengan yang lainnya.
2.Membandingkan hadist yang pernah di riwayatkan oleh seorang periwayat pada masa yang berlainan.
3.Membandingkan hadist-hadist yang perna di riwayatkan melalui para periwayat. Yang mana ini berasal dari 1 guru.
4.Membandingkan hadist-hadist yang pernah di ajarkan oleh 1 orang dengan hadist yang semisal dan pernah di ajarkan oleh guru lain.
5.Membandingkan hadist dengan ayat-ayat Al-qur’an4.
Metode Kritik Sanad atau Matan Hadist
Pada kali ini Ali Mustafa melakukan kajian hadist dengan menggunakan kritik sanad. Jika sanad hadist itu gugur, maka akan menimbulkan dampak pula terhadap matannya. Seperti contoh di bawah ini:
Mencari Ilmu ke negri Cina.
Redaksi hadistnya: الطلب العلم ولو با الصين فاء طلب العلم فريضة عل كل مسلم menurut Ali Mustafa, hadist ini tidak benar atau palsu, karena ini bukan hadist melainkan kata-kata mutiara. Alasannya ini ialah sanad hadist ini terdapat pemalsu hadist serta periwayat kontroversional. Dan hadist ini pada dasarnya mempunyai 3 jalur lain, namun kedudukannya tidak dapat berubah karena 3 sanad yang tadi itu lemah. Sementara kalimat:فان طلب العلم فريضة على كل مسلم hadist shahih yang diriwayatkan oleh Imam At-tabrani,Al-khatib al-bagdadi. Dan menurut pandangan Ali Mustafa bahwasanya hadist ini shahih sedang kalimat sebelumnya di namakan Dhaif.
Selain dari segi sanad hadist, maka Ali mustafa pula mempunyai kritik lain seputar matan hadist. Seperti contoh:
Ziarah 3 masjid.
Ali mustafa mengkritik dari berbagai ulama yang menggunakan hadist:من حخ البيت ولم يزرني فقد جفا ني dan من حخ فزار قبري كان كمن زار في حيا تي dan menurut Ali Mustafa bahwa hadist ini palsu. Di katakana demikian karena mengandaikan ziarah kemakam nabi wajib seperti wajibnya haji. Oleh karena itu berkaitan secara umum.
Akan tetapi menurut ali Mustafa ya’qub mengatakan yang benar berdasarkan hadist shahih dalam kitab sahih bukhori. Yaitu: لا تشد الرجال الأالي ثلاثة مساجد مسجد الحرام ومسجد هاذ ومسجد الأقص Jadi menurut Ali Mustafa ya’qub bahwasanya haji yang benar seperti ini, bukan seperti hal yang di atas.
Pengaruh Pemikiran Ali mustafa Ya’qub
Pemikiran Ali mustafa Ya’qub pun telah banyak di sumbangkan terutama dalam penelitian hadist, yang mana dalam penelitian hadist yang di lakukan oleh Ali sendiri, telah banyak menghasilkan ide-ide baru atau perkembangan-perkembangan hadist yang telah di kaji oleh Ali sendiri. Dan perlu di ketahui pula bahwasanya Ali sendiri mempunyai pemikiran yang di ikuti oleh mustafa al-azami, yang mana dalam pemikiran Ali ini, Al-azami banyak mengikuti corak pemikiran dan ideologi Ali mustafa. Begitu pula sebaliknya, jadi antara dua pemikir ini, kadang-kadang mempunyai pandangan yang berbeda dan selektif dalam melihat sebuah hadist. Baik itu yang telah di kaji dalam segi hadist itu sendiri, maupun yang di kaji dalam matannya.
Selain itu pula, Ali mustafa pun selektif dalam mengkaji pengkritik dari orientalis. Dan Ali pun banyak menemukan kekeliruan yang di kaji oleh para orientalis terkait pemahaman mereka dengan Islam maupun hadis. Kekeliruan tersebut dapat di lihat bagaimana mereka(Para Orientalis) mengkaji Islam secara tidak menyeluruh atau “stengah-stengah”, lalu mereka membuat suatu testimoni tentang hasil dari penyelidikan mereka itu.
Dengan demikian, maka Ali pun mempunyai alasan tersendiri untuk membantah atau meluruskan terhadap apa yang selama ini di tafsirkan oleh para orientalis. Yang mana jika orientalis mengkaji Islam dengan metode mereka sendiri tanpa mempertimbangkan alasan-alasan lainnya, maka Ali pun langsung meluruskan hal ini dengan mengambil metode historis dari setiap permasalahan. Yang mana jika di tanya mengenai segi historis, maka orientalis cendrung kurang memahaminya di karenakan mereka lebih terfokus pada inti dari permasalahan.
Kesimpulan
Ali mustafa merupakan salah satu ulama yang mengkritik hasil pemikiran-pemikiran yang di lakukan oleh para ulama-ulama atau tokoh-tokoh sebelumnya. Dengan berbagai metode pula Ali Mustafa mengkaji hadist dari berbagai sisi, baik itu yang berupa matan hadist, maupun yang berupa materi hadist itu sendiri. Dan dengan berbagai argumen-argumennya, Ali Mustafa menyanggah berbagai hasil pemikiran tokoh sebelumnya serta memperbaiknya dengan berbagai metode yang ia miliki.
Hubungan pemikiran antara Ali Mustafa dengan Al-azimi sangat berdekatan, sehingga hampir semua ideologi-ideologi atau cara berfikir antara dua orang ini hampir mirip. Hal ini bisa terlihat pada sistem sanad, studi literatur, penulisan hadist, dan pembukuannya. Serta dalam segi kutipan pendapat, maka akan nampak adanya kesamaan antara Ali mustafa dengan Mustafa al-azimi.
Dengan demikian, maka studi pemikiran terhadap sebuah hadist perlu di tingkatkan dan di dalami. Hal ini nampak bila di dalam negri pun telah muncul berbagai pemikir-pemikir hadist & para mufassirnya, maka kajian hadist pun akan lebih berkembang sesuai dengan keilmuan hadist di abad modern saat ini. Dan studi perbandingan hukum sebuah hadist akan lebih mudah untuk di fahami & di mengerti sesuai dengan literatur Islam.


Daftar Pustaka


-Ya’qub, Ali Mustafa,Kritik hadist,Jakarta;Pustaka Firdaus,1995